BAB 1O
TUJUAN DAN SASARAN PENGAJARAN
PERENCANAAN PENGAJARAN
Pengajaran merupakan teritori luas yang cakupannya meliputi rencana pengajaran, strategi mengajar, dan tes, yang sudah dikenal
baik oleh para administrator, guru, murid, dan orangtua. Pengajaran merupakan tanggung jawab yang dipikul guru. Pada titik ini, guru harus memutuskan apakah hendak menunjuk suatu topik atau menetapkan kompetensi, apakah hendak menunjukkan sasaran guru atau menunjukkan sasaran murid, apakah hendak mencapai penguasaan muatan materi atau hanya sekadar membeberkan materi saja, dan apakah hendak mengarahkan pengajaran pada kelompok atau mengarahkan pengajaran pada masing-masing individu.
Merencanakan pengajaran termasuk menunjuk tujuan dan sasaran pengajaran, memilih strategi pengajaran, dan memilih teknik-teknik untuk mengevaluasi pengajaran.
Tahap-tahap yang harus dilakukan sebelum mulai melakukan perencanaan, presentasi, dan evaluasi pengajaran:
- Mensurvei apa yang dibutuhkan murid secara umum
- Mensurvei apa yang dibutuhkan oleh masyarakat
- Mempertegas filosofi pendidikan apa yang digunakan dan menyatakan tujuan umum
- Mengidentifikasi tujuan dan sasaran
- Menetapkan apa saja yang dibutuhkan oleh murid di sekolah, apa yang dibutuhkan oleh masyarakat, dan apa saja yang dibutuhkan sebagaimana yang ditunjukkan dalam mata pelajaran
- Menegaskan kembali perencanaan untuk mengorganisir kurikulum atau memilih dan mengimplementasikan perencanaan untuk mengorganisir ulang kurikulum.
Model Pengajaran
Model Pengajaran dibagi menjadi dua tahap utama: perencanaan dan operasional/tindak lanjut. Tahap operasional dibagi menjadi dua bagian: implementasi/presentasi pengajaran dan evaluasi pengajaran.
Tahap Perencanaan Model Pengajaran terdiri atas empat komponen: Komponen VI—identifikasi tujuan pengajaran; Komponen VII—spesifikasi sasaran pengajaran; Komponen VIII—perencanaan guru bagi strategi pengajaran; Komponen IX—yang terdiri dari tahap pendahuluan dan tahap akhir perencanaan untuk evaluasi pengajaran.
Model Pengajaran:
Ø Model Pengajaran A (Perencanaan Instan/Tanpa Rencana): guru mengajar tanpa persiapan atau perencanaan terlebih dulu dan biasanya mengajarkan topik secara spontan.
Ø Model Pengajaran B: guru menggunakan buku teks, membagi sejumlah bab sesuai jumlah minggu tiap tahun tahun ajaran. Menyusun daftar topik tiap bab per minggu. Metode ini sesuai dengan pendekatan tugas-belajar-menjelaskan-tes.
Ø Model Pengajaran C: memilih topik belajar selama setahun, menggunakan semua materi yang berkaitan dengan topik yang telah dipilih—termasuk materi dari buku teks—dan membuat daftar tugas yang harus dikerjakan murid secara berturut-turut. Metode ini sesuai dengan pendekatan memecahkan-masalah.
Tak masalah model pengajaran dan metode mana pun yang digunakan oleh guru, tujuan dan sasaran pengajaran harus dicapai dan murid harus dapat menguasai pembelajaran jika tujuan dan sasaran pengajaran telah ditentukan sebelum proses pembelajaran dimulai.
DEFINISI TUJUAN DAN SASARAN PENGAJARAN
Tujuan dan sasaran kurikulum berfungsi sebagai sumber dari tujuan dan sasaran pengajaran. Tujuan ditetapkan sesuai dengan keputusan individu dan kelompok secara nasional, dan bahkan dalam cakupan internasional.
Tujuan pengajaran adalah pernyataan atau kinerja yang diharapkan dari tiap murid di dalam sebuah kelas, diuraikan dalam ungkapan yang umum tanpa adanya kriteria mengenai pencapaian prestasi. Contoh tujuan pengajaran: Murid akan menunjukkan pemahaman mengenai pasar saham. Seperti halnya tujuan kurikulum yang mengemukakan arah menuju sasaran kurikulum, tujuan pengajaran juga mengemukakan arah menuju sasaran pengajaran.
Sasaran pengajaran adalah pernyataan atau kinerja yang harus ditunjukkan oleh tiap murid di dalam sebuah kelas. Sasaran pengajaran tersebut bersumber dari tujuan pengajaran dan diuraikan dalam ungkapan yang dapat diukur dan dapat diobservasi. Contoh sasaran pengajaran: Murid akan mengikuti fraksi berikut untuk mempersentasekan hingga mencapai keakuratan 100 persen: ¼, 1/3, ½, 2/3, ¾. Sasaran Pengajaran juga dikenal sebagai sasaran perilaku/tindakan, sasaran kinerja, atau kompetensi.
Penjelasan Sasaran
Terdapat empat cara bagaimana para pendidik menjelaskan sasaran-sasaran pengajaran sebagaimana yang dikemukakan oleh Tyler. Sasaran adalah:
- hal-hal yang akan dilakukan oleh pendidik.
- topik, konsep, generalisasi, atau elemen lain dari muatan yang harus dimasukkan dalam mata pelajaran.
- pola generalisasi perilaku yang tidak bisa mengindikasikan secara lebih spesifik mengenai bidang kehidupan atau muatan di mana perilaku tersebut diterapkan.
- istilah yang dapat mengidentifikasikan kedua jenis perilaku yang akan dikembangkan dalam diri murid dan muatan atau bidang kehidupan di mana perilaku ini diterapkan.
PENGGUNAAN SASARAN PERILAKU
Perlu atau tidaknya menggunakan sasaran perilaku masih menjadi perdebatan di antara para pendidik selama bertahun-tahun. Para pendukung sasaran perilaku mengemukakan pendapatnya bahwa pendekatan ini bagi pengajaran:
- memaksa guru untuk harus menyelesaikan pembelajaran dengan tepat
- membuat guru mampu berkomunikasi dengan murid mengenai apa yang harus dicapai oleh mereka
- memudahkan evaluasi
- membuat akuntabilitas menjadi memungkinkan untuk dilakukan
- membuat penyusunan sekuens (gabungan bidang disiplin ilmu) menjadi lebih mudah untuk dilakukan
Mereka yang menentang sasaran perilaku/tindakan menyatakan bahwa penyusunan sasaran perilaku:
- hanya membuang-buang waktu
- tidak manusiawi
- melarang adanya kreativitas
- mengarah pada kompetensi yang sepele
Manfaat Sasaran Perilaku/Tindakan
- Sasaran perilaku bisa berguna sebagai strategi awal pengajaran. Sasaran dapat berhasil baik bila sasaran perilaku/tindakan tersebut menyinggung-nyinggung tugas pengajaran, bahwa sasaran akan efektif bila memasukkan beberapa jenis pengajaran tertentu, bahwa sasaran perilaku/tindakan berguna untuk menyelesaikan pembelajaran pada jenjang yang lebih tinggi dari taksonomi kognitif, dan bahwa murid-murid yang memiliki kemampuan rata-rata, murid laki-laki dengan latar belakang sosioekonomi tinggi, serta murid yang belum mandiri maupun juga murid yang giat mendapatkan manfaat dari sasaran perilaku/tindakan.
- Penyusunan sasaran perilaku/tindakan memaksa guru untuk mengidentifikasikan hasil yang diharapkannya. Spesifikasi sasaran pengajaran memberikan kemudahan bagi pemilihan strategi dan sumber pengajaran. Jika dikemukakan dalam bahasa atau kalimat perilaku/tindakan, sasaran pengajaran dapat menyediakan dasar penilaian, dan sasaran pengajaran tersebut disampaikan kepada semua pihak—murid, orangtua, dan para pakar pendidikan lainnya—secara tepat sehingga murid menunjukkan apa yang diharapkan darinya untuk dilaksanakan.
ACUAN UNTUK MENYIAPKAN TUJUAN DAN SASARAN PENGAJARAN
Keterkaitan antara Tujuan dan Sasaran Kurikulum
Tujuan dan sasaran pengajaran harus memiliki keterkaitan dengan tujuan dan sasaran kurikulum yang sudah ditetapkan sebelumnya karena tujuan dan sasaran pengajaran sendiri bersumber dari tujuan dan sasaran kurikulum.
Domain Pembelajaran
Terdapat tiga domain (ranah) pembelajaran, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotoris.
Domain Kognitif: berkaitan dengan ingatan dan pengenalan terhadap pengetahuan dan pengembangan kemampuan dan kecakapan intelektual. Pembelajaran kognitif—yang melibatkan proses mental, mencakup daya memorisasi hingga kemampuan untuk memikirkan dan memecahkan masalah.
Domain Afektif: pembelajaran yang menekankan pada kemampuan untuk merasakan suasana hati, emosi, maupun tingkat penerimaan atau penolakan. Pembelajaran afektif meliputi emosi, perasaan, keyakinan, sikap, dan nilai-nilai (norma).
Domain Psikomotoris: pada intinya menekankan pada kemampuan yang menggunakan otot-dan-saraf atau kemampuan fisik serta melibatkan tingkat ketangkasan fisik yang berbeda-beda. Domain pembelajaran psikomotoris yang terkadang dikenal sebagai “kemampuan motoris” ini terdiri atas gerakan tubuh dan koordinasi otot.
LEVEL TAKSONOMI
Tujuan dan sasaran pengajaran harus diidentifikasi pada tingkat pembelajaran sulit (jenjang tinggi) maupun mudah (jenjang rendah), dengan penekanan pada tingkat pembelajaran sulit. Sudah jelas bahwa beberapa pembelajaran merupakan pembelajaran yang lebih substantif, lebih kompleks, dan lebih penting daripada pembelajaran yang lain.
Taksonomi Kognitif
Pembelajaran kognitif diklasifikasikan menjadi enam kategori utama: pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Taksonomi ini menunjukkan sasaran pembelajaran sebagaimana yang diklasifikasikan dalam cara yang hirarki dari yang termudah (pengetahuan) hingga yang tersulit (evaluasi). Premis utama yang diambil oleh para pendidik profesional adalah bahwa pembelajaran pada jenjang tinggi harus lebih ditekankan. Kemampuan untuk berpikir tidaklah dikembangkan melalui pembelajaran mengingat pada jenjang rendah, melainkan melalui penerapan/aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.
Sasaran pengajaran pada domain kognitif merupakan sasaran yang paling mudah diidentifikasi dan yang paling gampang dievaluasi dibanding dengan dua domain lainnya. Pembelajaran kognitif pada umumnya diambil dari mata pelajaran dan sudah diukur sebelumnya, biasanya melalui tes tertulis dan latihan/tugas.
Taksonomi Afektif
Domain afektif terdiri atas lima kategori utama:
· Penerimaan (mengikuti)
· Memberi respon
· Menilai
· Organisasi
· Karakterisasi melalui nilai atau kompleksitas nilai
Taksonomi Psikomotoris
Untuk beberapa alasan yang sulit untuk dijelaskan, pengembangan dan penggunaan taksonomi dalam domain psikomotoris tidak diberikan penekanan sebagaimana halnya dalam domain kognitif dan afektif. Taksonomi domain psikomotoris memang ada, namun tampaknya tidak dikenal secara luas sebagaimana taksonomi dalam domain kognitif dan afektif.
Kategori domain psikomotoris adalah sebagai berikut:
- Persepsi
- Set
- Respon yang terpandu
- Mekanisme
- Respon kompleks
- Adaptasi
- Orisinalitas
TATA CARA PENULISAN
Tujuan dan sasaran pengajaran harus disusun sesuai dengan kaidah penulisan yang sederhana.
Tiga Elemen/Unsur Sasaran Pengajaran
- Perilaku/Tindakan yang diharapkan untuk dilakukan murid
- Dalam kondisi seperti apa perilaku/tindakan tersebut harus ditunjukkan
- Tingkat penguasaan yang diwajibkan
Menentukan Perilaku/Tindakan
Sewaktu menetapkan perilaku/tindakan, para pendidik harus memilih kata kerja tindakan yang menjadi topik pengukuran dan observasi. Contohnya saja dalam ranah kognitif pada level pengetahuan: murid harus dapat mengidentifikasi, menentukan, menyebutkan nama-nama presiden Amerika Serikat.
Menentukan Kondisi
Dalam kondisi seperti apa tindakan tersebut harus ditentukan. Contohnya saja dalam sasaran pengajaran tertulis bahwa: murid harus bisa menunjukkan letak wilayah tertentu di peta, maka di ruang kelas, guru harus mempersiapkan peta dinding dan daftar wilayah mana saja yang harus bisa ditunjukkan oleh murid.
Menentukan Kriteria
Pernyataan sasaran pengajaran harus memasukkan standar yang dapat diterima atau kriteria penguasaan perilaku/tindakan. Terdapat enam tipe standar pernyataan sasaran pengajaran:
- Jika PERISTIWA tindakan memang penting, uraikan dengan jelas tindakan yang dimaksud. Contoh: simpul tidak diikat erat seperti dalam gambar.
- Jika AKURASI memang penting, berikan sebuah pernyataan selisih penyimpangan atau cakupan yang dapat diterima. Contoh: Jawaban harus benar hingga jumlah pertanyaan tertentu.
- Jika jumlah KESALAHAN memang penting, sebutkan jumlahnya. Contoh: maksimal satu kesalahan saja.
- Jika WAKTU atau KECEPATAN memang penting, sebutkan level minimalnya. Contoh: dalam lima detik; lima unit per menit.
- Jika REFERENSI yang harus DIKETAHUI menyediakan standarnya, sebutkan referensi tersebut. Contoh: tunjukkan urut-urutan langkah sesuai yang diberikan dalam wacana.
- Jika KONSEKUENSI tindakan memang penting, uraikan konsekuensi tersebut dengan jelas atau berikan contohnya. Contoh: Arahkan kelas agar semua murid berpartisipasi dalam diskusi.
MENGESAHKAN DAN MENETAPKAN PRIORITAS TUJUAN DAN SASARAN PENGAJARAN
Tujuan dan sasaran pengajaran harus disahkan dan ditempatkan sebagai prioritas. Guru harus mengetahui apakah tujuan dan sasaran pengajaran tersebut patut diterapkan dan mana yang lebih penting untuk diterapkan.
Mengesahkan serta mengurutkan tujuan dan sasaran pengajaran biasanya dilakukan dengan merujuk pada buku teks, buku referensi, dan acuan kurikulum. Mereka yang menyusun materi-materi tersebut berperan sebagai orang yang mengesahkan dan mengatur prioritas.
Para guru dapat meminta bantuan dalam mengesahkan serta mengurutkan tujuan dan sasaran pengajaran pada rekan sejawat, departemen, anggota organisasi sekolah lain yang memiliki pengetahuan untuk itu, konsultan kurikulum, dan pengawas. Konsultan dan pengawas yang terlatih dan berpengalaman dalam bidang-bidang khusus harus bisa membantu para guru untuk memutuskan tujuan dan sasaran pengajaran yang mana yang cocok untuk mata pelajaran yang diajarkannya dan juga yang cocok bagi para peserta didik, serta tujuan dan sasaran pengajaran yang mana yang mesti ditekankan. Guru juga dapat meminta saran dari para pakar yang berkepentingan dalam bidang mata pelajaran yang berasal dari luar sistem sekolah, serta dari para spesialis di sistem sekolah lain atau dari institusi pendidikan yang lebih tinggi.
KESIMPULAN
Tujuan dan sasaran pengajaran berkaitan langsung dengan tujuan dan sasaran kurikulum yang telah ditetapkan sebelumnya. Tujuan pengajaran memberikan acuan untuk menetapkan sasaran pengajaran.
Hasil pembelajaran dapat diidentifikasikan dalam tiga domain utama: kognitif, afektif, psikomotoris. Domain kognitif mencakup bidang intelektual; afektif mencakup bidang emosi, keyakinan, nilai (norma), dan sikap, sedangkan psikomotoris mencakup bidang kemampuan-motoris yang dapat dilihat secara fisik.
Taksonomi tiap-tiap domain memberikan klasifikasi sasaran pengajaran secara hirarkis dari level pembelajaran paling rendah hingga level pembelajaran paling tinggi. Taksonomi bermanfaat untuk mengungkapkan tipe-tipe pembelajaran yang dicakup tiap-tiap domain dan juga bermanfaat untuk memberikan acuan bagi para pendidik dalam memberikan penekanan yang lebih banyak pada pembelajaran di level yang lebih tinggi.
